Home >> Ekonomi >> Pengrajin Batok Kelapa Dari Blitar Yang Mampu Menembus Pasar Dunia

Pengrajin Batok Kelapa Dari Blitar Yang Mampu Menembus Pasar Dunia

a72e4dcb-e90c-4a9c-b853-9932f6d691bd_43

Bhatara, Amir Daus sang pengrajin batok (tempurung kelapa) yang mampu menembus pasar dunia desain yang mengangkat kearifan lokal, justru menjadi daya Tarik tersendiri. Dan mampu mendongkrak nilai jual karena termasuk karya seni.

 

Keputusan Amir pindah ke Desa Tlogo Kecamatan Kaningoro,sangat tepat karena di desa inilah darah seni mengalir deras di tubuhnya untuk berkarya.

“Seharusnya orang Blitar itu bersyukur. Sangat banyak potensi alam yang belum dikerjakan maksimal. Kenapa harus cari kerja keluar kota. Hidup didesa itu lebih merdeka tau. Lebih bisa tampil beda. Dan itu juga yang bikin harga beda,” kata pria berambut gondrong itu mengawali cerita, Senin (19/8/2019).

Seniman asli kelahiran Jakarta ini melihat banyak potensi alam yang terbuang sia-sia. Bahkan hanya dipakai sebagai kayu bakar saja. Seperti bambu dan tempurung kelapa. Di tangannya, kedua barang itu diubah menjadi karya seni bernilai tinggi.

“Awal 2009 itu modal saya cuma Rp 10 ribu. Saya beli tempurung yang jadi sampah itu. Saya beli bambu yang dipotong mau dipakai kayu bakar. Saya bikinlah kap lampu. Laku Rp 350 ribu. Dari situ terus saya eksplorasi bahan alam yang ada di sini,” bebernya.

Karya seni Amir semakin variatif dan menarik kaya nuansa seni. Hingga awal 2011, dia membuat workshop di rumahnya di Jalan Angrek RT/RW 3 Tlogo, Kanigoro. Ada empat mesin yang dioperasikan sesuai kebutuhan.

Dari ruangan seluas 2×6 meter inilah, tercipta berbagai kerajinan. Seperti mangkuk, cangkir, sendok, kap lampu sampai kalung. Semua berbahan batok.

“Kalau bambu itu biasanya repeat order dari karya lama. Tapi saya beralih ke batok. Pertama gak rusak kena nonol seperti bambu. Kedua, masih gampang cari bahannya,” ungkap bapak empat putra ini.

Untuk cangkir batok, Amir mengirimkan ke India sebanyak 800 ribu buah. Dan pesanan itu masih juga dikerjakannya sekarang. Sedangkan untuk item lain, Amir sudah merasa kewalahan melayani empat toko lokal di Kota Blitar saja.

“Saya mengutamakan pesanan dari Blitar saja. Itupun sudah kuwalahan. Susah saya cari SDM yang punya skill. Mereka yang pernah kerja ikut saya, gak pernah mau menyerap ilmunya. Anak muda sekarang maunya instan. Gak mau belajar prosesnya,” kata pria berusia 47 tahun ini.

Saat ini, Amir hanya dibantu seorang anaknya mengerjakan barang-barang pesanan. Dan ketika berkunjung, semua hasil karya Amir telah terjual habis.

“Saya itu gak pernah bisa nyimpen barang. Semua pasti dibawa sama yang beli. Harganya ya beda-beda. Tergantung desain dan tingkat kesulitannya,” ujar Amir.

Seperti cangkir dijual seharga Rp 8000 per buah. Kap lampu dari harga Rp 25 ribu sampai 350 ribu per buah. Dan kalung dijual dari harga Rp 15 ribu sampai 25 ribu per buah.

Seperti pada umumnya seniman, Amir tidak pernah mengejar kuantitas produksi. Ada dua kunci idealisme yang membuat karyanya dihargai berbeda. Pertama, menjaga kualitas. Kedua, berani membuat ide dengan desain yang berbeda. Sementara ditanya soal omzet, begini jawabnya

“Ya tergantung. Kalau kerjanya semangat ya hasilnya banyak,” pungkasnya tertawa

 

 

( Sumber : Detik.com )

 

 

 

[ndi]

Facebook Comments

Baca Juga!..

budi-karya

Taksi Online Dan Konvesional Tidak Terkena Ganjil Genap?

Bekasi-Bhatara, Budi menjelaskan, hingga saat ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Pemprov DKI Jakarta terus berkomunikasi. ...

semprot-masal

Serangan Jamur Pada Tanaman Sayur Dan Pangan Akibat Perubahan Cuaca Extrim Bisa Picu Gagal Panen Para Petani

Bekasi-Bhatara, Para Petani mengeluh karena perubahan cuaca extrim akhir-akhir ini imbasnya berdampak pada tanaman sayuran ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *