Home >> Nasional >> Fenomena La Nina Di Tengah Pendemi Covid-19

Fenomena La Nina Di Tengah Pendemi Covid-19

la nina

Bekasi-Bhatara, Di tengah pendemi Covid-19 masyarakat Indonesia terancam fenomena yang di sebut La Nina, fenomena ini bisa mengganggu di segala sektor, seperti pertanian, perikanan, transportasi, termasuk berpotensi bisa menyebabkan meluasnya penularan Covid-19.

Melansir dari liputan6, La Nina merupakan peristiwa di mana terjadi penurunan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian timur, yang menyebabkan peningkatan kecepatan angin pasat timur yang bertiup di sepanjang samudera pasifik.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Supari mengingatkan masyarakat Indonesia terkait fenomena La Nina yang akan terjadi di Indonesia ini.

“Berdasarkan analisis dari potret data suhu permukaan laut di Pasifik. Saat ini La Nina sudah teraktivasi di Pasifik Timur,” ujar Supari dalam keterangannya, pekan lalu.

Supari mengatakan bahwa La Nina akan menyebabkan bencana hidrometeorologi. Namun, dampak tersebut sangat bergantung pada musim dan bulan, wilayah, serta intensitasnya.

“La Nina akan berdampak pada anomali cuaca yang berujung pada bencana hidrometeorologi,” kata Supari.

Supari mengingatkan bahwa La Nina dapat memicu frekuensi dan curah hujan yang jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Sehingga potensi banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

“La Nina membuat curah hujan akan naik. Bahkan sampai bulan April 2021. Potensi bencana yang ditimbulkan harus diwaspadai oleh masyarakat,” ujar dia.

Menyikapi fenomena ini, Supari menyampaikan perlunya kewaspadaan terhadap kondisi hujan di atas normal pada 20 hari pertama bulan Oktober 2020.

Diperkirakan pada Desember hingga Februari 2021, peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku-Maluku Utara dan Papua.

Pada Oktober beberapa zona musim di wilayah Indonesia diperkirakan akan memasuki musim hujan, di antaranya pesisir timur Aceh, sebagian Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Pulau Bangka, Lampung, Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah. Kemudian sebagian kecil Jawa Timur, sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Utara, juga sebagian kecil Sulawesi, Maluku Utara dan sebagian kecil Nusa Tenggara Barat.

Para pemangku kepentingan diharapkan dapat lebih optimal melakukan pengelolaan tata air terintegrasi dari hulu hingga hilir misalnya dengan penyiapan kapasitas sungai dan kanal untuk antisipasi debit air yang berlebih.

Masyarakat juga diimbau agar terus memperbaharui perkembangan informasi dari BMKG dengan memanfaatkan kanal media sosial infoBMKG, atau langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.

BPBD tiap provinsi sudah mengimbau masyarakat untuk mewaspadai dampak La Nina ini. Seperti BPBD Banten yang mengimbau warga untuk mewaspadai terjadinya intensitas curah hujan tinggi yang menyebabkan potensi banjir, tanah longsor, bahkan banjir bandang.

“Maka kita juga harus tetap waspada dengan adanya fenomena ini, yang bisa mengakibatkan banjir bandang, dan longsor. Selain itu untuk daerah yang rawan longsor agar selalu waspada,” kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Nana Suryana di Serang, pekan lalu.

Sementara, di Sulawesi Selatan, warga diharapkan mewaspadai badai sebagai dampak dari La Nina. Kepala Stasiun Klimatologi Kabupaten Maros, Hartanto menyebutkan bahwa wilayah pantai barat Provinsi Sulawesi Selatan harus waspada dalam menghadapi La Nina. Wilayah itu meliputi Kota Makassar, Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkep, Kabupaten Barru, Kota Parepare dan Kabupaten Pinrang.

“Januari merupakan puncak musim hujan di wilayah pantai Barat Sulsel. Sedangkan di wilayah Timur masuk puncak musim hujan pada Maret,” kata Hartanto, Kamis (15/10/2020).

Akibat dari fenomena La Nina di Indonesia bisa menyebabkan banjir, puting beliung, longsor, banjir bandang dan gelombang pasang. Pada Oktober 2020, potensi curah hujan tinggi, meningkat hingga 20-40% di sebagian wilayah kecuali Sumatera, dan pada Desember 2020 – Januari 2021, berpotensi curah hujan tinggi di Kalimantan bagian Timur, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Antisipasi untuk masyarakat sendiri yaitu  masyarakat diimbau waspada bencana, waspada dampak di sektor pertanian perikanan dan perhubungan, tiadakan alih fungsi lahan, ingatkan bahaya penambangan liar, siapkan asuransi untuk petani dan penambak, informasi cuaca di sebar ke seluruh pemda dan public, kementerian lembaga bekerja sesuai laporan BMKG, cegah claster Covid-19 di pengungsian, dan terapkan protocol kesehatan Antara lain ialah memakai masker, cuci tangan pakai sabun/hand sanitizer, jaga jarak dan hindari kerumunan.

Jika La Nina mengancam sejumlah kawasan di Indonesia bagian tengah dan timur, bukan berarti bagian barat Indonesia aman. Pasalnya di kawasan Sumatera dan sekitarnya juga ada potensi Indian Ocean Dipole, yaitu osilasi suhu permukaan laut yang tidak teratur di mana Samudera Hindia bagian barat menjadi lebih hangat secara bergantian (fase positif) kemudian menjadi dingin (fase negatif) dari bagian timur laut.

Rahmat Subekti, peneliti cuaca di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Raden Inten Lampung, saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (15/10/2020) mengatakan, secara umum La Nina lebih berdampak di daerah Indonesia bagian tengah dan timur. Untuk wilayah Sumatera La Nina lemah hingga moderate, dan dampaknya tidak sekuat di wilayah tengah dan timur Indonesia.

“Tapi tetap perlu diwaspadai peningkatan curah hujan akibat la nina moderate ini,” katanya.

Lebih jauh, Rahmat menjelaskan, La Nina fenomena alam yang terjadi Samudera Pasifik. Lokasinya yang jauh dari Pulau Sumatera turut mempengarungi besarnya dampak yang bakal terjadi.

“Ada fenomena serupa La Nina, tapi terjadi di Samudera Hindia, Namanya Indian Ocean Dipole. Ini secara umum pengaruh dan dampaknya kuat di Indonesia bagian barat, salah satunya Pulau Sumatera,” katanya.

Sama halnya seperti fenomena La Nina, Indian Ocean Dipole terjadi karena perbedaan suhu muka laut di lautan sebelah timut pantai Afrika dan kawasan laut barat Indonesia.

Saat suhu muka laut pada salah satu kawasan tersebut menjadi lebih panas atau dingin dari biasanya, maka akan menyebabkan perubahan sirkulasi udara dan juga arus laut, yang berbeda dari kondiri biasanya. Perubahan sirkulasi inilah yang kemudian membawa dampak kondisi iklim, khususnya di Indonesia bagian barat.

Suhu muka laut yang menjadi lebih panas ini juga mempengaruhi tekanan udara di atas lautan yang hangat tersebut menjadi lebih rendah. Maka akan terjadi aliran udara dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Dalam konteks fenomena IOD, maka massa udara akan mengalir ke wilayah Indonesia, yakni Pulau Sumatera, jika suhu muka laut id perairan barat Indonesia lebih hangat.

IOD sendiri punya tiga fase, yaitu netral, positif, dan negatif. Pada fase negatif, suhu muka laut di barat Indonesia menjadi lebih hangat dari biasanya. Selisih suhu muka laut, antara muka alut pantai timur Afrika dan pantai barat Indonesia akan lebih kecil dari minus 0,5 derajat Celsius. Hal ini menimbulkan curah hujan yang berbeda dari biasanya di wilayah barat Indonesia hingga Australia.

Rahmat tidak bisa memastikan sejauh mana fenomena Indian Ocean Dipole berdampak pada peningkatan curah hujan di Indonesia bagian barat, sehingga menimbulkan dampak turunan berupa banjir bandang.

“Kami memantau sampai pengaruh pada informasi waspada peningkatan curah hujan saja. Soal bagaimana hujan ini bisa menimbulkan banjir bandang, itu sudah menjadi ranah BPBD, atau dengan KLHK jika kaitannya dengan tutupan hutan,” katanya.

Dirinya juga mengatakan, fenomena La Nina atau El Nino atau Indian Ocean Dipole tidak bisa dipredikasi kapan terjadi curah hujannya dengan intensitas yang paling tinggi.

“Tapi perlu dilihat curah hujan hariannya, data itulah yang kemudian dijadikan dasar stakeholder atau pemerintah, untuk melihat kondisi di lapangan. Jika kondisinya rawan banjir, dan pada hari itu ada informasi dari BMKG misal curah hujan bakal tinggi, tinggal diserahkan kebijakannya di pemerintah setempat,” katanya.

Antisipasi untuk masyarakat sendiri yaitu diimbau waspada bencana, waspada dampak di sektor pertanian perikanan dan perhubungan, tiadakan alih fungsi lahan, ingatkan bahaya penambangan liar, siapkan asuransi untuk petani dan penambak, informasi cuaca di sebar ke seluruh pemda dan public, kementerian lembaga bekerja sesuai laporan BMKG, cegah claster Covid-19 di pengungsian, dan terapkan protocol kesehatan Antara lain ialah memakai masker, cuci tangan pakai sabun/hand sanitizer, jaga jarak dan hindari kerumunan.

 

 

 

 

[Ndi]
Facebook Comments

Baca Juga!..

sri

Tiap Ada PSBB, Pendapatan Pajak Tertekan

  Bekasi-Bhatara, Pendemi virus corona (Covid-19) telah menekan pendapatan negara terutama dari sisi perpajakan, Menteri ...

Mulai Hari ini, KRL Beroperasi Normal

Mulai Hari ini, KRL Beroperasi Normal

Jakarta – Bhatara, Mulai hari ini senin, 19 Oktober 2020, pengguna Transportasi Umum Kereta Api dapat ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *